Got My Cursor @ 123Cursors.com
Free INDONESIA Cursors at www.totallyfreecursors.com
Alam Ghaib: Cerita horor fiksi bersambung "Misteri Lukisan Miss Sisilia Part 4"

Sabtu, 27 Juli 2013

Cerita horor fiksi bersambung "Misteri Lukisan Miss Sisilia Part 4"

Hai sobat blogger,, !!! Kali ini "SAYA" akan memposting lanjutan cerita fiksi bersambung,,yang berjudul "Misteri Lukisan Miss Sisilia"..
Selamat membacaaaa !!


Kami saling menatap dengan perasaan campur aduk membuatku ingin tau siapa sosok di depanku ini, Rina yang ku kenal bahkan seolah aku tidak mengenalinya sama sekali,
Kemudian kulihat dia mendekatiku, dan dengan tersenyum mengenggam tanganku , Rina mengatakan “kamu gagk papa kan?? Gagk di hukum kan??”
Walaupun Rina tersenyum dan mencoba menghiburku tetap saja rasa curiga itu masih ada dalam hatiku, dan senyuman itu meski terlihat sangat tulus tapi aku tau itu bukan senyuman dari sahabat baikku,

Hari ini aku banyak menghabiskan waktuku membaca buku di perpustakaan sekolah,
Semenjak itu aku jauh lebih suka sendiri, layaknya Rina dia juga sibuk dengan dunianya aku pun juga ingin sibuk dengan duniaku,
Kami jarang berbicara bahkan menghabiskan waktu hanya untuk saling bercerita kehidupan kami masing masing layaknya waktu pertama kami bertemu, kadangkala terbesit kenapa dengan temanku?

Sore ini aku memutuskan kembali ke kamar asrama, dan aku tau semenjak aku melanggar peraturan itu pengawasan di asrama jauh lebih ketat dari sebelumnya, sesaat aku masuk ke ruang tengah aku melihat kembali lukisan itu, dan kudekati lukisan itu,
Sebenarnya lukisan ini hanya saja menyimpan sesuatu yang aku bahkan tidak tau, siapa miss sisilia apakah dia benar nyata atau hanya legenda urban???
Kuusap tanganku aku ingin mengetahui detail lukisan itu, tapi aku merasakan ke anehan dalam lukisan itu, seperti lukisan lain pemakaian warna adalah kunci sebuah lukisan , seharusnya warna dalam lukisan menggambarkan sifat apstrak, dimana bila kita menyentuh lukisan itu seharusnya sentuhan kasar itu lah yang akan Nampak, sebaik baiknya lukisan itu di poles akan tetap kasar dalam penyentuhanya,
Aku tau sedikit mengenai lukisan karna aku pernah mengikuti pelajaran kesenian , dan aku cukup tau mengenai dasar penciptaan sebuah lukisan, tapi tidak lukisan ini lukisan ini, sangat halus bahkan aku tidak melihat ada unsure kasar di bagian manapun dalam lukisan ini,

Aku bertanya dalam hati “bahan apakah yang di gunakan untuk melukis lukisan ini?
Hingga aku perhatikan lebih mendetail mengenai lukisan itu, dan yang membuat perhatian ku tiba tiba tertujuh pada sebuah gambar di belakang lukisan itu, seolah menggambarkan perbedaan tempat dimana aku melihat sebuah rumah lumbung namun memiliki perbedaan penggambaran dengan gambar, sebuah tali , tepat berada di belakang,
Gambar itu membuatku penasaran, dimana lokasi penggambaran dari lukisan ini, seolah mengambil konsep sebuah cermin,
Ya aku yakin siapapun yang menciptakan lukisan ini adalah seseorang yang memakai konsep cermin, tapi sangat aneh ketika seorang pelukis mengambil konsep cermin bila obyek ada di depanya kecuali……????


Kubuyarkan sesaat asumsiku yang mulai melayang entah kemana itu ,
Aku pun kembali berjalan menuju ke kamar, meski pertanyaan pertanyaan itu masih membekas dalam penasaranku, aku mulai berjalan menaiki tangga,
Hingga suara hentakan kakiku di tangga menimbulkan suara yang menggema, dan kudengar suara langkah kaki lain di sertai hembusan nafas seseorang aku pun terdiam dan berhenti sejenak, memastikan apa yang aku dengar itu benar,
Ya, aku mendengarnya suara hentakan kaki menaiki tangga kutunggu siapa itu ,
Tapi tak ada apapun yang muncul, tak seorang pun dalam hati “siapa itu?”

Aku pun kembali ke kamar, sesampai di kamar, aku melihat Rina sudah merapikan tempat tidurnya dan membaca buku, aku melihatnya dengan curiga sembari meletakkan tasku ke meja belajarku,
Kulihat Rina juga menatapku dan dia tersenyum padaku, aku pun membalas senyuman nya dan segera membasuh kakiku, dan melangkah ke ranjangku, kuambil buku di dalam tasku, meski kami saling tersenyum tapi tak ada dialog apapun antara kami seolah kami saling tidka mengenali,

Tapi yang menarik perhatianku bukan dia tidak berbicara padaku melainkan, dia bahkan duduk dengan posisi yang tidak biasanya bila biasanya dia duduk bersilah dan membaca dengan santai, tapi sekarang kaki terayun dalam ranjang seolah menunjukkan cara membaca seorang bangsawan yang mengutamakan tata cara formal, tapi aku tidak bisa membuktikan apa apa apakah dia Rina sahabat kamarku atau bukan??

Kulihat malam semakin larut dan Rina juga sudah  terlelap dalam tidurnya aku pun meletakkan buku ku di atas meja belajarku di samping tas sekolahku, dan segera membereskan selimutku untuk segera tidur,

Tik tok tik tok, suara jam mulai berdetak, dan mulailah aku tidur dan memulai mimpiku,
Hingga sesaat aku terbangun dan kulihat kali ini Rina berdiri dari ranjangnya dengan hanya menggunakan piama putihnya dan sedang menuju keluar ruangan ,
Aku melihatnya tapi aku tetap berpura pura tidur, aku tidak ingin Rina tau bila aku sudah terbangun, kulirik jam menunjukkan pukul 12 malam ,
“dia mau kemana di malam selarut ini?”
Dalam hati aku bergumam,

Hingga sesaat Rina membuka pintu dia berhenti dan seketika melihatku yang masih berpura pura tidur dengan mengintipkan mataku melihat Rina menatapku aku segera menutup mataku, agar dia tidak curiga,
Kulihat suasana sudah menjadi hening, dan aku membuka mataku, sosok Rina sudah tidak ada,
 dengan pintu yang sudah tertutup rapat, aku segera menuju ke pintu dan sesaat aku menyentuh handle pintu itu aku terdiam, aku berfikir apa aku harus keluar dan melihat itu?
Padahal aku dalam keadaan sedang mendapatkan peringatan mengenai peraturan yang aku langgar,
Tapi, sudahlah, aku keluar dan mulai berjalan menuju lorong,
Suasana dingin mencekam, membuat jantungku tidak bisa berdetak dengan normal bahkan sesekali kaki ku bergetar ketakutan., tapi tetap saja rasa penasaranku dengan Rina membuatku mengikuti hatiku,
Ku dengar seseorang sedang berjalan turun, dan aku tau itu pasti Rina, aku mengikutinya dengan hati hati , agar Rina tidak tau bila aku mengikuti langkahnya,

Dan aku melewati lukisan itu kembali, hinga sosok secepat angin melintasi punggungku seperti ada yang baru melewatiku ketika ku tengok tidak ada siapa siapa,

Jantungku semakin berdetak lebih cepat ketika seperti ada yang sedang melihatku di ruangan itu membuatku berkeringat dingin,
Hingga aku mendekatkan diri pada sebuah jendela, dan kulihat Rina sedang berjalan menuju ke taman, segera aku mengejarnya dan berjalan mendekatinya,
Ku ikuti kemana Rina pergi, hingga dia berhenti di taman bunga dan menundukkan kepalanya, apa yang dia mau lakukan aku mengamatinya di balik semak semak, hingga suara desahan nafas di leherku seperti sebelumnya membuatku terkejut dan seketika mematikan langkahku,
Siapa yang ada di belakangku??”
Ku balikkan kepalaku pelan untuk melihat siapa sosok di belakangku, dan astaga!!
Sosok miss sisilia berdiri tepat di belakangku, dengan mata putih, dia melotot ke arahku dan bau  amis darah di leher dan mulutnya benar benar membuatku terkejut, aku mencoba berteriak, tapi tangan penuh dengan kuku kuku tajam segera membungkam mulutku, aku semakin ketakutan ketika tangan lainya menyentuh kepalaku,
Seketika itu aku melihat sebuah ruangan dengan buku yang sangat banyak dan aku hanya melihat sebuah bayangan beberapa orang sedang membicarakan sesuatu,
“kita harus membunuhnya, bila kita ingin mendapatkan harta itu, ini adalah tanah yang dia gunakan untuk menyembunyikan hartanya..”

Entah siapa yang , melakukan dialog itu,
Dan kembali aku melihat sebuah gudang tua, seperti gudang dalam,
Dalam lukisan itu, aku semakin dalam melihat sebuah kamar, dan aku mendengar sebuah teriakan seorang gadis seperti gadis yang aku kenal baik,
“tolooong, toolooong…”
Dan aku yakin dia adalah Rina.. jadi siapa dia?”
Dan aku tersadar dalam tidurku, aku terbangun dengan keringat bercucuran, aku pun segera memuntahkan sebuah darah di selimutku tapi itu bukan darahku, aku merintih Manahan sakit mulutku seolah itu tadi bukanlah sebuah mimpi,
Kuliahat ke jendela hari sudah pagi, aku berfikir sejenak apa maksutnya semua itu,
Siapa yang akan di bunuh,?? Dan siapa yang berteriak minta tolong itu?”

Dan darah amis di selimutku ini seperti darah ayam , entahlah aku menyentuh kepalaku yang pusing , hingga suara handle seseoarang akan masuk ke kamar membuyarkan lamunanku,
Aku segera melipat selimut yang aku muntahi dengan darah amis itu, dan melipatnya agar tidak ada yang tau,
Semuanya seperti nyata tapi entahlah, hingga aku melihat Rina yang baru saja mandi masuk ke kamar dan melihatku dengan tatapan aneh , melihatku sepertinya menyembunyikan sesuatu,
Kemudian Rina tersenyum padaku dan mengatakan, “kamu tidak mandi airnya sangat segar?”
Aku jawab dengan senyuman juga, ‘’ya sebentar lagi aku akan mandi”
Kulihat Rina mengambil sebuah gelas dan mengaduk gula dengan campuran teh  , dan meminumnya perlahan dengan kelingking menghadap ke atas , seolah aku pernah melihat gaya minum itu, seperti gaya minum seorang bangsawan, aku semakin curiga ketika dia meletakkan minuman itu di atas meja belajar kami,
Rina menuju ke almari dan mengambil sebuah baju seragam, dan saat itu tiba tiba saja mulutku mengatakan hal yang sudah aku pendam saat ini,

“siapa kamu??”
Rina menatapku dan bertanya “kamu bicara denganku,??”
Kembali aku bertanya hal yang sama kali ini aku sedikit mengencangkan suaraku,
“SIAPA KAMU??”
dengan tersenyum Rina mengatakan “apa maksut ucapanmu ini aku Rina teman sekamarmu lalu siapa lagi??”
aku berdiri beranjak dari ranjangku dan mendekati  gelas teh  itu, aku tersenyum melihat gelas teh itu,
ada bebarap sifat aneh Rina yang aku kenal dan itu sudah menjadi kebiasaanya meski aku baru saja mengenalinya tapi aku tau semua nya karna dia sudah menceritakan semua itu,

Rina memang menyukai minuman Teh hangat apalagi di saat pagi seperti ini, tapi satu hal yang paling dia benci adalah bila dia membuat teh, Rina tidak pernah mengaduk gula dan membiarkanya mengendap dalam gelas Teh itu, dan mencampurnya dengan air lalu dia minum semuanya dan satu lagi Rina tidak pernah meminum Teh dengan gaya formal sepertimu itu, dan yang  paling membuatku tau kau bukan Rina, kau meletakkan Teh itu di atas meja belajar ini , sedangkan Rina tidak akan melakukan hal itu karna dia tau aku peling benci dengan benda yang bisa membuat pecah karna aku takut dengan tahayul, dan kau  pasti tau maksutku, maksut tahayul Segelas Teh di atas tempat belajarku ini kan??

Kemudian kulihat sosok Rina menundukkan kepalanya dan tersenyum sinis menatapku,
“bila aku bukan Rina kau mau apa??
Kulihat senyuman licik menghiasi paras itu, dan  kembali aku bertanya dimana Rina yang asli,??”
“kenapa aku harus memberitau mu??”
Kau benar benar” aku semakin geram dengan manatap matanya, mungkinkah gudang itu, gudang tua itu Rina berada lalu siapa sosok di depanku ini??
Siapa dia??
Kuambil gelas teh itu dan kulemparkan kepadanya,
Pyuaaaaarrrrrrr!!!
Suara gelas teh yang pecah, membuat teman teman ku yang menjadi tetangga di kamarku, mendadak melihat ke kamarku semua,
Dengan pintu terbuka mereka melihatku dan Rina yang saling menatap, salah satu teman kami menghampiriku dan bertanya “ada apa?? Apa kalian baru saja bertengkar,”
Tapi aku hanya diam dan melihat Rina semakin geram, hingga tiba tiba Rina berteriak,
“arghhh” dengan tangan memegang kepalanya Rina menahan rasa sakit, dan aku melihat darah keluar dari kepalanya, padahal lemparanku hanya mengenai tembok belakang Rina , aku tidak melemparkanya pada kepalanya,
Semua teman teman kami mendekati Rina dan bertanya kamu tidak apa apa?
Dengan terisak tangis Rina mengatakan Bila aku sudah membuatnya terluka hingga darah di keningnya adalah akibat ulahku,
Dalam hati “dasar !!”
Dan kemudian aku mendengar suara Miss Aila datang masuk ke kamar kami dan meilihat kami , melihat Rina yang bersimbah darah dengan pecahan gelas, Miss Aila menatap tajam aku,

Kali ini aku akan mendapatkan masalah yang lebih serius lagi dan itu semua karna makhluk di balik Rina siapa dia??
Aku tertunduk diam dan berfikir, apa maksut mimpi ku semalam, misteri apa yang ada di asrama ini? Dan siapa sosok di balik Rina, lalu dimana Rina yang asli, aku terdiam melihat apa yang akan terjadi padaku,


Bersambung………..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar